Tampilkan postingan dengan label Umroh dan Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umroh dan Haji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

Perjalanan pulang setelah perjalanan Umroh tahun 2011

[Sabtu, 2 Juli 2011] Setelah perjalanan 9 hari melaksanakan ibadah umroh, saya bersiap-siap kembali ke tanah air dengan menggunakna pesawat Garuda Indonesia Airways. Berangkat dari Jeddah sekitar jam 3 dini hari.

Membaca adalah kebiasan saya dalam setiap perjalanan

Jumat, 01 Juli 2011

Sholat Jum'at di Mesjid Terapung di Laut Merah Jeddah

[Jum'at, 1 Juli 2011] Dalam perjalanan menuju Airport Jeddah, kami singgah di mesjid yang dikatakan sebagai Mesjid Terapung, tepatnya di Laut Merah Jeddah untuk melakukan sholat Jum'at. Jeddah merupakan ibu kota komersial Arab Saudi. Di sini kita akan menemukan banyak kesibukan, karena Jeddah adalah kota pelabuhan utama, baik darat maupun udara. Jeddah diambil dari bahasa Arab, yang artinya Nenek. Karena di kota ini terdapat makam Nenek seluruh umat manusia, yaitu Hawa.

Di balik kesibukannya, Jeddah memiliki sebuah masjid yang cukup terkenal, terutama di kalangan Jamaah dari Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena hampir semua biro perjalanan memasukkan masjid ini ke dalam lokasi yang harus dikunjungi. Nama masjid ini adalah Masjid Ar-Rahmah.

Masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Terapung atau Floating Mosque. Disebut demikian karena masjid ini berada di ujung barat Laut Merah, dan dibangun tepat di atas laut dan di sisi anjungan sehingga menimbulkan kesan mengapung dalam air. Keunikan ini akan semakin terlihat apabila sedang terjadi pasang yang disertai ombak. Saat pasang, pondasi bagian bawah masjid tidak akan terlihat, jadi benar-benar terasa seolah masjid ini sedang mengapung di atas air.
Keindahan masjid ini akan mencapai puncaknya selepas subuh. Ketika lampu-lampu masjid masih berkilauan karena matahari belum terbit sepenuhnya lalu dipadukan dengan latar Laut Merah yang tenang. Masjid Ar-Rahmah sebetulnya tidak memiliki nilai historis dalam sejarah perkembangan agama Islam. Beberapa berita dari mulut ke mulut mengatakan bahwa seorang penduduk setempat yang merupakan seorang janda kaya dan tidak diketahui namanya, mewakafkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid ini setelah suaminya wafat. Jadi kunjungan pada jemaah ini memang murni karena ketertarikan mereka terhadap keunikan masjid ini. 

Apalagi di sepanjang perjalanan menuju masjid, sudah banyak dibangun kawasan hijau dan pusat rekreasi serta wisata belanja. Jadi rasanya cukup menyenangkan beristirahat sebentar di tempat ini sambil menikmati keindahan Laut Merah.
Dengan perpaduan arsitektur Arab dan modern, masjid yang memiliki luas 20x30 meter ini memiliki desain interior yang cukup menawan. Tembok yang dipenuhi dengan kaligrafi dan ornamen-ornamen khas Arab, menambah kesan megah masjid. Masjid terapung biasa digunakan untuk shalat Jum’at dan shalat fardhu, akan tetapi, pagar akan digembok selepas Isya.

Warung Jajan selera Indonesia di Jeddah

[Jum'at, 1 Juli 2011] Setelah melaksanakan sholat Jum'at di Mesjid Mengapung di Laut Merah Jeddah, rombongan diajak untuk berbelanja di pusat perbelanjaan di kota Jeddah. 

Selesai berbelanja, mampir di cafe Raja Bakso Mang Oedin. Wah, serasa di Indonesia nih.  Iya, karena mereka yang berjualan memang orang dari Indonesia dan bahasanya pun dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Thawaf, Sa'i dan Tahallul Umroh tahun 2011

[Jum'at, 1 Juli 2011] Pada kesempatan kali ini, saya bersama-sama teman melakukan tawaf umroh.   Beberapa sunah-sunah tawaf diantaranya :
  1. Berjalan kaki.
  2. Berittiba' bagi Tawaf diiringi dengan Sa'ie (Lelaki)
  3. Melakukan Ramal (Berlari-lari anak) bagi Tawaf yang diiringi dengan Sa'ie (Lelaki)
  4. Istilam Hajarul Aswad dan Mengucupnya/Istilam Rukun Yamani dan tidak Mengucupnya.
  5. Membaca Zikir dan Doa.
  6. Berturut-turut 7 kali keliling.
  7. Tawaf dengan Khusyuk/Tawadhuk.
  8. Sembahyang Sunat Tawaf.
Thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, dimana posisi Ka'bah berada di sebelah kiri kita (jama'ah). Diawali dan diakhiri sejajar dan searah dengan Hajar Aswad. Karena Posisi Ka'bah berada di sebelah kiri jama'ah, berarti orang yang thawaf berputar (mengelilingi) Ka'bah pada posisi berlawanan arah jarum jam.



Kamis, 30 Juni 2011

Perjalanan wisata religius ke Gua Hira

[Kamis, 30 Juni 2011] Bagi sebagian kaum Muslimin, perjalanan ibadah umroh dan haji bukan hanya sekedar menyempurnakan prosesi atau ritual sebagaimana diwajibkan atau disunnahkan syariat, tapi juga sebuah wisata religius. Salah satunya adalah dengan melakukan ziarah. Dan salah satu tempat ziarah yang paling diburu para jamaah haji atau mereka yang berumrah adalah Gua Hira yang terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya).

Gunung ini terletak sekitar enam kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Sekitar lima meter dari puncak gunung, terdapat sebuah lubang kecil. Itulah yang disebut Gua Hira, di mana Nabi Muhammad Saw mendapat wahyu pertamanya.

Sedangkan tinggi puncak Jabal Nur kira-kira dua ratus meter, di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung, batu bukit dan jurang. Letak Gua Hira di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit dengan ketinggian sekitar dua meter. Di bagian ujung kanan gua terdapat lubang kecil yang dapat dipergunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung arah Makkah.

Untuk menuju puncak gunung, seseorang rata-rata memerlukan waktu selama satu jam bahkan lebih dari dasar gunung. Medannya cukup sulit karena tidak ada titian tangga. Para peziarah harus mendaki melewati batu-batu terjal. Jalan bertangga hanya ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Namun menjelang puncak gunung, medannya sedikit ringan, peziarah bisa mendaki dengan santai.

Begitu tiba di depan pintu gua, terdapat tulisan Arab ‘Ghor Hira’ dengan cat warna merah. Di atas tulisan itu terdapat tulisan dua ayat pertama Surat Al-Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira terletak persis di samping kiri tulisan tersebut.

Panjang gua tersebut sekitar tiga meter dengan lebar sekitar satu setengah meter, dan ketinggian sekitar dua meter. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk shalat dua orang. Di bagian kanan gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup digunakan untuk shalat dalam keadaan duduk.

Dengan kondisi seperti itu, Gua Hira merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Muhammad untuk bertahannuts. Suasananya tenang, dan jauh dari keriuhan kota Makkah kala itu. Dan tentu saja, Muhammad telah mempertimbangkan dengan matang pemilihan gua ini sebagai tempatnya 'mencari' Tuhan.

Beliau juga telah memperbincangkan tempat itu dengan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Oleh sebab itu, terkadang di malam yang pekat, Khadijah beberapa kali mengunjungi Muhammad. Dapat dibayangkan bagaimana beratnya medan yang ditempuh Khadijah Al-Kubra saat itu, ketika mengunjungi suaminya di Gua Hira.

Saking vitalnya peran Gua Hira dalam sejarah Islam, salah seorang pakar sejarah Islam asal Mesir, Husain Mu’nis, mengatakan Gua Hira layak disebut sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam. "Gua Hira, tak pelak lagi, merupakan masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu Rasulullah melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu," ujarnya.

Bagaimanapun jua, walau tak harus menyebut Gua Hira sebagai masjid pertama di dunia, namun peran vitalnya sebagai tempat diturunkannya wahyu pertama kali, menjadikannya sebagai tujuan ziarah yang selalu dikerubuti jamaah.